Minggu, 09 Desember 2012

Sejarah Perkembangan Home Care Di indonesia dan Manajeman Home Care

MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN
Manajemen data dan  informasi kesehatan adalah pengelolaan data dan informasi kesehatan mulai dari input (sumber data), pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian dan publikasi data & informasi. Adanya Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dapat memberikan dukungan informasi dalam proses pengambilan keputusan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan.
Kesehatan (MIK) yang fokus pelayannnya ditujukan pada unsur informasi dengan tugas-tugas yang menekankan pada penngumpulan, analisis, yang tertuju pada cakupan  pengguna informasi yang lebih luas, seperti kepentingan , manajer, provider (pemberi layanan kesehatan), dan pasien. “Good Clinical Governance” merefleksikan  kinerja institusi pelayanan kesehatan melakukan pembenahan dalam sistem pencatatan, pengolahan data dan analisa data medis secara integrated, lengkap, akurat, tepat waktu, dan mutakhir.
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah tatanan berbagai komponen data dan informasi kesehatan yang saling terkait satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan data dan informasi tentang kondisi kesehatan dan kinerja kesehatan suatu wilayah. Manajemen data dan informasi kesehatan satu pintu adalah pengelolaan data dan informasi kesehatan mulai dari input (sumber data), pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian dan publikasi data & informasi baik ditingkat Puskesmas

Ekonomi Kesehatan.
Ilmu ekonomi kesehatan merupakan integrasi 2 cabang ilmu yang sudah mapan yaitu Ilmu Ekonomi dan Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Ekonomi kesehatan memegang peranan yang sangat strategis dalam era pelayananan kesehatan yang harus terkendali mutu dan biayanya (managed care). Dalam  bidan pembiayaan kesehatan disiplin ekonomi sebagai sebuah  ilmu terapan dapat digunakan sebagai dasar alokasi sumberdaya  kesehatan yang semakin terbatas. Dengan keterbatasan sumber daya kesehatan ini maka tidak semua anggaran dapat dialokasikan ke semua sektor sebagaimana yang diharapkan.
Ilmu ekonomi kesehatan adalah penerapan ilmu ekonomi dalam upaya kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Sesuai dengan batasan tersebut, Ilmu Ekonomi Kesehatan membahas tentang:
1.  Alokasi sumber daya dari berbagai program kesehatan
2. Besar sumber daya yang dipergunakan dalam pelayanan kesehatan.
3. Pengorganisasian dan pembiayan institusi kesehatan terkait pelayanan langsung dan institusi penunjang
4. Efisiensi dan efektifivitas sumberdaya kesehatan
5. Efek pelayanan preventif, kuratif dan rehabilitatif terhadap kesehatan penduduk
Alasan mempelajari ilmu ekonomi kesehatan
1.Kepentingan ekonomis : dalam menentukan apa yang akan diadakan untuk
suatu negara perlu dikaji sisi ekonominya secara baik.
2. Pasr Yankes :  mekanisme pasar untuk  jasa  kesehatan  jauh   berbeda  dengan  mekanisme  pasar lainnya. Konsumen yankes agak  sulit  menentukan  pilihan  atau  mengukur  apakah  produk yang dibayarkan atau dibeli itu memang benar-benar diperlukan, apakah pemeriksaan dengan alat tertentu memang benar-benar diperlukan dll.

Sejarah perkembangan ilmu ekonomi kesehatan
1.Sir Williams Petty (Ahly Statistik dan Ekonom Ingris1623-1687) mengkaji dan mengukur nilai kehidupan manusia dikaitkan dengan produksi dalam wabah penyakit kholera di London.
2.Chadwick (ahli ekonom Inggris 1862) berpendapat perbaikan sanitasi sesuatu investasi yang bermakna daripada membayar Rumah Sakit untuk mengobati orang sakit
3.Van Dine (Ekonom Amerika Serikat 1916) Penurunan produksi pertanian akibat serangan malaria di Lousiana, Amerika Serikat.
4.Sinton ( India, 1935-1936) Kerugian ekonomi akibat  penyakit malaria yang berakibat kematian dan kecacatan.
5.Russel dan Menon (1942) Dampak penyakit malaria terhadap suply tenaga kerja dan pendapatan mereka di beberapa kelompok orang Indian, Amerika Serikat.
6.Ilmu Ekonomi Kesehatan sebagai suatu disiplin ilmu mulai diakui tahun 1950 di Amerika Serikat dan tahun 1960 di Inggris.
7.Indonesia pada era tahun 1970-an yang dimotori oleh tokoh-tokoh litbangkes mulai menerapkan teori Ilmu Ekonomi dibidang kesehatan.
Ruang lingkup ilmu ekonomi kesehatan

A.KAJIAN EKONOMI MAKRO (MACRO ECONOMIC)
Menelaah sektor ekonomi secara makro/menyeluruh (global) serta hubungannya secara timbal balik dengan sektor lain, menganalisa pengaruh kebijakan dan implementasi pembangunan sektor lain terhadap kesehatan. Contoh:
1.Hubungan adanya bendungan Aswan di Mesir dengan kejadian penyakit schistosomiasis
2.Pengaruh pembukaan hutan dengan kejadian Malaria di Brazil
3.Kegiatan Industri Newmont dengan keracunan mercuri

B.KAJIAN EKONOMI MIKRO (MICRO ECONOMIC)
Menelaah aspek produksi (suply), konsumsi (demand/utilisasi) pelayanan kesehatan. ASPEK PRODUKSI (Suply) contoh:
1.Menelaah biaya dari berbagai input program kesehatan seperti sarana gedung, alat   kesehatan dan tenaga kesehatan.
2.Analisis pembiayaan dari berbagai alternatif program yang dapat memberikan gambaran tentang Cost Efficiency,Cost Efectiveness dan Cost Utilization.
3.Menelaah aspek pembiayaan secara keseluruhan contoh: sumber pembiayaan kesehatan dari: pemerintah, swasta, out of pocket, berapa besarnya, kecendrungannya dan sistem mobilisasi pembayaan kesehatan (asuransi, grant, pajak dll).

Penerapan ilmu ekonomi kesehatan
Penerapan ilmu ekonomi dibidang kesehatan tidak bisa bertujuan Profit Maximization semata melainkan harus juga mempertimbangkan Equity atau unsur pemerataan.Hal inilah yang membedakan Ilmu Ekonomi murni dengan Ilmu Ekonomi Kesehatan. Untuk itu dalam penerapan ilmu ekonomi kesehatan diperlukan Analisis Biaya Pelayanan Institusi Kesehatan yang mengkaji tarif yang layak, besarnya subsidi yang harus diberikan, biaya yang harus dihilangkan/diperkecil.
Pasar Pelayanan Kesehatan:
1.Dokter/paramedis menyediakan bermacam jasa: diagnosa, memberikan resep dan
melakukan bedah jantung.
2.RSU bertindak sebagai penjual: perawatan pasien, pemeriksaan labor
3.Individu/masyarakat adalah konsumen yang membeli perawatan (pemeriksaan fisik,
perawatan dll).

MANAJEMEN PUSKESMAS
Analisis Biaya Puskesmas: adalah suatu kegiatan menghitung biaya puskesmas untuk berbagai jenis pelayanan yang ditawarkan, baik secara total maupun per unit (per-pasien) dengan cara menghitung seluruh biaya pada seluruh unit (pusat biaya) serta mendistribusikan keunit-unit produksi yang kemudian dibayar oleh pasien.
Tujuan umum kegiatan Analisis Biaya Puskesmas: untuk mendapatkan informasi mengenai biaya total dan biaya satuan di Puskesmas, Pustu, Bidan di Desa.
Tujuan Khusus:
1.Mendapatkan gambaran mengenai unit/bagian yang merupakan pusat biaya (cost center) dan pusat pendapatan (Revenue Center).
2.Mendapatkan gambaran biaya pada tiap unit/kegiatan pokok, baik biaya tetap (biaya investasi) maupun biaya variabel (biaya operasional) dan biaya pemeliharaan (biaya maintainance).
3,Mendapatkan gambaran pendapatan Puskesmas, baik bersumber dari pemerintah maupun bersumber pendapatan retribusi (revenue)
4.Mendapatkan gambaran biaya satuan pelayanan Puskesmas (BP (kuratif), KIA. KB, Imunisasi, Rawat Inap untuk puskesmas dengan tempat tidur, dll).
Biaya Satuan (Unit cost) adalah biaya yang dihitung untuk 1 satuan produk pelayanan (informasi yang menggambarkan besarnya biaya setiap pelayanan setiap pasien yang mendapatkan yankes. UC =TC/Q
Home Care secara sederhana dapat dikemukakan sebagai “Perawatan pasien /klien dirumah”. Suharyati (1998), mengutip Habbs and Perin (1985) mengemukakan Home care sebagai Family and  or Professionally Provided Health Care and Related service delivered in the home environment. Dua jenis pasar yang dominan dari home care adalah klien dengan kondisi paska akut dan klien dengan kondisi ketidakmampuan tertentu (disable) dan atau dengan kondisi penyakit kronis (Dochterman & Grace, 2001).
MANAJEMEN HOME CARE

Implementasi praktik keperawatan yang dilakukan oleh perawat sebenarnya tidak harus dilakukan di rumah sakit, klinik, ataupun di gedung puskesmas tetapi dapat juga dilaksanakan dimasyarakat maupun dirumah pasien. Pelayanan keperawatan yang dilkukan dirumah pasien disebut Home Care.
Home Care (HC) menurut Habbs dan Perrin, 1985 adalah merupakan layanan kesehatan yang dilakukan di rumah pasien (Lerman D. & Eric B.L, 1993), Sehingga home care dalam keperawatan merupakan layanan keperawatan di rumah pasien yang telah melalui sejarah yang panjang.

SEJARAH PERKEMBANGAN HOME CARE

DI LUAR NEGERI
Di Amerika, Home Care (HC) yang terorganisasikan dimulai sejak sekitar tahun 1880- an, dimana saat itu banyak sekali penderita penyakit infeksi dengan angka kematian yang tinggi. Meskipun pada saat itu telah banyak didirikan rumah sakit modern, namun pemanfaatannya masih sangat rendah, hal ini dikarenakan masyarakat lebih menyukai perawatan dirumah. Kondisi ini berkembang secara professional, sehingga pada tahun 1900 terdapat 12.000 perawat terlatih di seluruh USA (Visiting Nurses / VN ; memberikan asuhan keperawatan dirumah pada keluarga miskin, Public Health Nurses, melakukan upaya promosi dan prevensi untuk melindungi kesehatan masyarakat, serta Perawat Praktik Mandiri yang melakukan asuhan keperawatan pasien dirumah sesuai kebutuhannya). (Lerman D. & Eric B.L, 1993).
Sejak tahun 1990-an institusi yang memberikan layanan Home Care terus meningkat sekitar 10% perthun dari semula layanan hanya diberikan oleh organisasi perawat pengunjung rumah (VNA = Visiting Nurse Association) dan pemerintah, kemudian berkembang layanan yang berorientasi profit (Proprietary Agencies) dan yang berbasis RS (Hospital Based Agencies) Kondisi ini terjadi seiring dengan perubahan system pembayaran jasa layanan Home Care (dapat dibayar melalui pihak ke tiga / asuransi) dan perkembangan spesialisasi di berbagai layanan kesehatan termasuk berkembangnya Home Health Nursing yang merupakan spesialisasi dari Community Health Nursing (Allender & Spradley, 2001)
Di UK, Home Care berkembang secara professional selama pertengahan abad 19, dengan mulai berkembangnya District Nursing, yang pada awalnya dimulai oleh para Biarawati yang merawat orang miskin yang sakit dirumah. Kemudian merek mulai melatih wanita dari kalangan menengah ke bawah untuk merawat orang miskin yang sakit, dibawah pengawasan Biarawati tersebut (Walliamson, 1996 dalam Lawwton, Cantrell & Harris, 2000). Kondisi ini terus berkembang sehingga pada tahun 1992 ditetapkan peran District Nurse (DN) adalah :
  • merawat orang sakit dirumah, sampai klien mampu mandiri
  • merawat orang sakaratul maut dirumah agar meninggal dengan nyaman dan damai
    • mengajarkan ketrampilan keperawatan dasar kepada klien dan keluarga, agar dapat  digunakan pada saat kunjungan perawat telah berlalu.
Selain District Nurse (DN), di UK juga muncul perawat Health Visitor (HV) yang berperan sebagai District Nurse (DN) ditambah dengan peran lain ialah :
  • melakukan penyuluhan dan konseling pada klien, keluarga maupun masyarakat luas  dalam upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan
  • memberikan saran dan pandangan bagaimana mengelola kesehatan dan kesejahteraan  masyarakat sesuai dengan kondisi setempat.

DI DALAM NEGERI
Di Indonesia, layanan Home Care (HC) sebenarnya bukan merupakan hal yang baru, karena merawat pasien di rumah baik yang dilakukan oleh anggota keluarga yang dilatih dan atau oleh tenaga keperawatan melalui kunjungan rumah secara perorangan, adalah merupakan hal biasa sejak dahulu kala. Sebagai contoh dapat dikemukakandalam perawatan maternitas, dimana RS Budi Kemulyaan di Jakarta yang merupakan RS pendidikan Bidan tertua di Indonesia, sejak berdirinya sampai sekitar tahun 1975 telah melakukan program Home Care (HC) yang disebut dengan “Partus Luar”. Dalam layanan “Partus Luar”, bidan dan siswa bidan RS Budi Kemulyaan melakukan pertolongan persalinan normal dirumah pasien, kemudian diikuti dengan perawatan nifas dan neonatal oleh siswa bidan senior (kandidat) sampai tali pusat bayi puput (lepas). Baik bidan maupun siswa bidan yang melaksanakan tugas “Partus Luar” dan tindak lanjutnya, harus membuat laporan tertulis kepada RS tentang kondisi ibu dan bayi serta tindakan yang telah dilakukan. Kondisi ini terhenti seiring dengan perubahan kebijakan Depkes yang memisahkan organisasi pendidikan dengan pelayanan


PENTINGNYA HOME CARE:
Bagi Klien dan Keluarga
  • Program Home Care (HC) dapat membantu meringankan biaya rawat inap yang  makin mahal, karena dapat mengurangi biaya akomodasi pasien, transportasi dan konsumsi keluarga
  • Mempererat ikatan keluarga, karena dapat selalu berdekatan pada saat anggoa  keluarga ada yang sakit
  • Merasa lebih nyaman karena berada dirumah sendiri
    • Makin banyaknya wanita yang bekerja diluar rumah, sehingga tugas merawat orang sakit yang biasanya dilakukan ibu terhambat oleh karena itu kehadiran perawat untuk menggantikannya

Bagi Perawat
  • Memberikan variasi lingkungan kerja, sehingga tidak jenuh dengan lingkungan yang  tetap sama
    • Dapat mengenal klien dan lingkungannya dengan baik, sehingga pendidikan kesehatan yang diberikan sesuai dengan situasi dan kondisi rumah klien, dengan begitu kepuasan kerja perawat akan meningkat.
JENIS INSTITUSI PEMBERI LAYANAN HOME CARE (HC)
Ada beberapa jenis institusi yang dapat memberikan layanan Home Care (HC), antara lain:
Institusi Pemerintah
Di Indonesia pelayanan Home Care (HC) yang telah lama berlangsung dilakukan adalah dalam bentuk perawatan kasus/keluarga resiko tinggi (baik ibu, bayi, balita maupun lansia) yang akan dilaksanakan oleh tenaga keperawatan puskesmas (digaji oleh pemerintah). Klien yang dilayani oleh puskesmas biasanya adalah kalangan menengah ke bawah. Di Amerika hal ini dilakukan oleh Visiting Nurse (VN)
Institusi Sosial
Institusi ini melaksanakan pelayanan Home Care (HC) dengan sukarela dan tidak memungut biaya. Biasanya di lakukan oleh LSM atau organisasi keagamaan dengan penyandang dananya dari donatur, misalnya Bala Keselamatan yang melakukan kunjungan rumah kepada keluarga yang membutuhkan sebagai wujud pangabdian kepadan Tuhan.
Institusi Swasta
I           nstitusi ini melaksanakan pelayanan Home Care (HC) dalam bentuk praktik mandiri baik perorangan maupun kelompok yang menyelenggarakan pelayanan HC dengan menerima imbalan jasa baik secara langsung dari klien maupun pembayaran melalui pihak ke tiga (asuransi). Sebagaimana layaknya layanan kesehatan swasta, tentu tidak berorientasi “not for profit service”

Home Care (HC) Berbasis Rumah Sakit (Hospital Home Care)
Merupakan perawatan lanjutan pada klien yang telah dirawat dirumah sakit, karena masih memerlukan bantuan layanan keperawatan, maka dilanjutkan dirumah. Alasan munculnya jenis program ini selain apa yang telah dikemukakan dalam alasan Home Care (HC) diatas, adalah :
v  Ambulasi dini dengan resiko memendeknya hari rawat, sehingga kesempatan untuk melakukan pendidikan kesehatan sangat kurang (misalnya ibu post partum normal hanya dirawat 1-3 hari, sehingga untuk mengajarkan bagaimana cara menyusui yang baik, cara merawat tali pusat bayi, memandikan bayi, merawat luka perineum ibu, senam post partum, dll) belum dilaksanakan secara optimum sehingga kemandirian ibu masih kurang.
v  Menghindari resiko infeksi nosokomial yang dapat terjadi pada klien yang dirawat dirumah sakit.
v  Makin banyaknya penyakit kronis, yang bila dirawat di RS tentu memerlukan biaya yang besar
v  Perlunya kesinambungan perawatan klien dari rumah sakit ke rumah, sehingga akan meningkatkan kepuasan klien maupun perawat. Hasil penelitian dari “Suharyati” staf dosen keperawatan komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di RSHS Bandung menunjukkan bahwa konsumen RSHS cenderung menerima program HHC (Hospital Home Care) dengan alasan ; lebih nyaman, tidak merepotkan, menghemat waktu & biaya serta lebih mempercepat tali kekeluargaan (Suharyati, 1998)

POPULASI, JENIS DAN PEMBERI LAYANAN HOME CARE (HC)
Populasi layanan
Populasi layanan Home Care (HC) di Amerika didominasi oleh wanita (66,8%). Meskipun program Home Care (HC) diperuntukkan untuk semua umur, tetapi mayoritas klien berusia 65 tahun atau lebih (Allender & Spradley, 2001).
Pengalaman Home Health Care (HHC) oleh “Suharyati” staf dosen keperawatan komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di RS Al-Islam Bandung (yang dimulai sejak 1995) juga menunjukkan kondisi yang sama, dimana pada triwulan I tahun 2002 klien wanita lebih banyak dari pria dan kelompok usia lanjut juga mendominasi layanan HHC di RS Al-Islam Bandung (Maya H, 2002). Hal ini mungkin disebabkan karena populasi wanita lebih banyak dan umur harapan hidup wanita lebih panjang dari pria serta para lansia yang cenderung untuk lebih mudah terserang penyakit.

Jenis layanan
Mengingat HC dalam keperawatan merupakan spesialisasi dari keperawatan komunitas (Blackie, 1998), maka jenis layanan yang diberikan meliputi layanan keperawatan (diagnosa dan perlakuan terhadap respon manusia yang menghadapi masalah kesehatan baik potensial maupun actual dalam memenuhi kebutuhan dasarnya) dan layanan kesehatan masyarakat (prevensi primer, sekunder dan tersier). Di Amerika jenis kasus yang dirawat di rumah menurut Allender & Spradley 2001 adalah :
·  Penyakit jantung
  • Penyakit/gangguan system muskuloskeletal dan jaringan pengikat
  • Penyakit Diabetes Mellitus
  • Penyakit system pernafasan
  • Luka
  • Keracunan
  • Kanker (hanya sebagian kecil), karena kebanyakan kasus palliative dirawat di Hospice

Pemberi layanan
Pemberi layanan keperawatan di rumah terdiri dari dua jenis tenaga, yaitu :
a.       Tenaga informal
Tenaga informal adalah anggota keluarga atau teman yang memberikan layanan kepada klien tanpa dibayar. Diperkirakan 75% lanjut usia di Amerika dirawat oleh jenis tenaga ini (Allender & Spradley, 2001)
b.      Tenaga formal
Tenaga formal adalah perawat yang harus bekerja bersama keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan, sehingga harus memperhatikan semua aspek kehidupan keluarga. Oleh karena itu perawat di masyarakat dituntut untuk mampu berfikir kritis dan menguasai ketrampilan klinik dan harus seorang RN. Dengan demikian diharapkan perawat dapat memberikan layanan sesuai dengan standard yang telah ditetapkan.
STANDAR PRAKTIK HOME HEALTH NURSING (HHN)
Asosiasi perawat Amerika (1999) telah menetapkan lingkungan dan standar Home Health Nursing yang meliputi standar asuhan keperawatan dan standar kinerja professional (Allender & Spradley, 2001)
Standard Asuhan Keperawatan
  • Standard – I, Perawat mengumpulkan data kesehatan klien
    • Standard – II, Dalam menetapkan diagnosa keperawatan, perawat melakukan analisa  terhadap data yang telah terkumpul
    • Standard – III, Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan baik dari klien maupun lingkungannya
    • Standard – IV, Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan dengan menetapkan intervensi yang akan dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan
    • Standard – V, Perawat melaksanakan rencana intervensi yang telah di tetapkan dalam perencanaan
    • Standard – VI, Perawat melakukan evaluasi terhadap kemajuan klien yang mengarah ke pencapaian hasil yang diharapkan.

Standard Kinerja Profesional (professional performance)
  • Standard – I, Kualitas asuhan keperawatan, perawat melakukan evaluasi terhadap kualitas dan efektifitas praktik keperawatan secara sistematis
  • Standard – II, Performance Appraisal, perawat melakukan evaluasi diri sendiri terhadap praktik keperawatan yang dilakukannya dihubungkan dengan standar praktik professional, hasil penelitian ilmiah dan peraturan yang berlaku
  • Standard – III, Pendidikan, perawat berupaya untuk selalu meningklatkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam praktik keperawatan
  • Standard – IV, Kesejawatan, perawat berinteraksi dan berperan aktif dalam pengembangan professionalism sesama perawat dan praktisi kesehatan lainnya sebagai sejawat
  • Standard – V, Etika, putusan dan tindakan perawat terhadap klien berdasarkan pada landasan etika profesi
  • Standar VI, Kolaborasi, dalam melaksanakan asuhan keperawatan, perawat berkolaborasi dengan klien, keluarga dan praktisi kesehatan lain.
  • Standar VII, Penelitian, dalam praktiknya, perawat menerapkan hasil penelitian
  • Standard – VIII, Pemanfaatan sumber, perawat membantu klien atau keluarga untuk memahami resiko, keuntungan dan biaya perencanaan dan pelaksanaan asuhan keperawatan .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar